CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Selasa, 29 Maret 2011

Bicara tentang ibadah


“Shalat dhuha-nya bisa nanti mbak. Sekarang jam rapat. Kalau memang mau sholat dhuha, kenapa nggak tadi aja sebelum rapat. Lagian rapat ini kan cuma sejam. Klo dhuhanya 20 menit, rapatnya jadi nggak efektif”
                Suara itu membuat suasana menghening. Entah apa yang ada dipikiran teman saya itu. Orang ibadah kok dilarang.
                “Lho sampeyan ini gimana toh mbak? Orang mau ibadah kok dilarang?”
                Satu orang mulai angkat bicara. Tak setuju
                “Iya nih, sesama muslim kok gitu”
                Orang lain menambahi. Sementara teman saya yang tadi menjadi semakin geram.
                “Lho saya tidak melarang ibadah. Titik point kalimat saya kan jangan sholat dhuha di jam rapat. Itu saja”
                “Tapi tetap saja mbak, ibadah sunnah itu kan hak semua orang”
                “Yess well, well i know.....tapi kepentingan anda di sini untuk rapat. Saya tidak mau anda menjadikan ibadah sebagai alasan atas turunnya profesionalitas anda. Titik”
                Perdebatan itu terus terjadi. Entahlah, saya lupa endingnya seperti apa. J
                Jujur baru sekali saya menyaksikan perdebatan seperti ini. Adapun dua teman saya, saya yakin mereka berdua punya maksud baik hanya saja mereka berdua memandang dari sudut yang berbeda. Satunya lebih terfokus pada kesalihan individual, sedangkan satunya lagi lebih terfokus pada kesalihan sosial. Tak ada yang salah, hanya saja dari kedua hal tersebut, pastinya ada 1 hal yang lebih baik, lebih utama.
                Meski konteksnya tak terlalu sama, kejadian ini mengingatkan saya kepada salah satu hadis yang dibahas dalam kitab Nasaihhul Ibad :
“Barangsiapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam baginya pahala yang sama dengan haji mabrur. Hamba Allah yang paling dicintai adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain (manusia) dan amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman menutup rasa lapar orang lain, membebaskannya dari kesulitan hidup atau membayarkan utangnya”.     
                Konteksnya nggak terlalu sama kan?
                Tapi jika dirunut lebih dalam, *menurut penjelasan pak ustadz waktu itu* ada satu poin penting. Bahwa keutamaan ibadah itu bersifat relatif1. Ada kalanya dalam satu waktu shalat dhuha menjadi ibadah sunnah yang paling utama sedang dilain waktu tak menutup kemungkinan ada ibadah lain yang lebih utama daripada shalat dhuha...hm rada’ belibet ya?
                Gimana njelasinnya ya?
                Oke pake kejadian aja deh.
                Misalnya begini,
                Teman-teman lagi asyik duduk-duduk di masjid di waktu dhuha, nah pada waktu itu kan sholat dhuha jadi ibadah yang utama soalnya shalat dhuha jelas lebih baik daripada duduk dan nggak ngapa-ngapain lalu beberapa detik kemudian tiba-tiba ada orang kerampokan dalam masjid *mungkin nggak sih? Anggep mungkin ajalah* . Dalam hal ini menolong orang kerampokan tadi tentunya menjadi lebih utama daripada sholat duha. *Ya iyalah, mana mungkin ada seorang muslim yang enak-enakan sholat sunnah sementara di depan mata ada sodara sesama muslim dirampok orang.*
                *Contohnya bisa dipahami kan? afwan kalau membingungkan*
                Dalam hadis riwayat Abu Hurairah juga ditunjukkan
                Satu hari seorang pemimpin yang bertindak adil terhadap rakyatnya adalah lebih utama daripada orang yang beribadah selama 60 tahun1
                Dari sini insya allah bisa disimpulkan kan? dua sudut pandang teman tadi, mana yang lebih ahsan?
                Yupz , intinya jangan jadikan ibadah sebagai alat mendholimi orang lain J
                Kalo bisa shalat dhuha sebelum ato sesudah rapat, kenapa harus sholat dhuha di waktu rapat? :D
                Satu hal lain yang bisa diambil dari peristiwa tadi :D meski ga terlalu nyambung dengan bahasan :D
                Nasihati orang lain dengan kata-kata yang baik (Qaulan ma’rufan)
                Bingung?
                Mari kita diskusikan :D
Surabaya, 29 maret 2011
  Aisyah

Catatan
1)      Ibadah yang dimaksud adalah ibadah yang hukumnya sunnah

Sabtu, 19 Februari 2011

Lelaki Berjiwa Malaikat

Rumah sakit Dharmais 20.00

Wajahnya lesu kelelahan. Kaosnya kumal penuh keringat. Baru sejam lalu dia datang. Sepertinya hari ini kerja berat lagi.

“Dokter Farid, habis memeriksa istri saya?”

Dia menyapaku ceria. Sepertinya dia sadar kalau sudah kuamati sejak tadi.

“Bagaimana perkembangannya dok?”

“Pak Rahmat sabar ya. Sejauh ini belum ada perkembangan signifikan” Tanganku menepuk-nepuk pundaknya. Membayangkan kalau reaksinya akan seperti keluarga pasien lain. Menangis meraung-raung, memukul-mukul tembok dan melakukan hal-hal ‘ekstrem’ lainnya

“Semoga Allah membantu kami bersabar dok”

Ternyata reaksinya jauh dari bayangan. Rahmat hanya tersenyum. Sejurus kemudian dia melangkah ke ruang ICCU. Mengintip tubuh lemah istrinya dari balik kaca. Kalau kau melihatnya, mungkin kau akan benar-benar terharu.

Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca meski bibirnya masih mencoba tersenyum. Dia menggumamkan beberapa kata yang tak jelas. Sepertinya dia sedang berdoa dan berbicara kepada isterinya dengan caranya sendiri.

*
Rumah sakit Dharmais 03.00

Pagi buta. Aku berjalan ke parkiran mobil, operasi tadi membuatku tertahan di rumah sakit sampai pagi. Tubuh lelahku kuayun pelan sambil meminum sekaleng kopi dingin. Menghindari resiko tidur sambil berjalan seperti yang dulu-dulu. Sampai di parkiran, aku menghidupkan Fortunerku. Tak berhasil. Mencoba menghidupkannya lagi. Tetap tak bisa. Sekali, dua kali, tiga kali, lima kali. Aku mulai jengkel.

“Shit....nih mobil ga tau apa kalo gue lagi capek”

Mulutku mulai agak rusak, aku turun dari mobil sambil mengumpat berkali-kali. Kenapa mobilku harus mogok sepagi ini. Di parkiran masih belum ada orang. Aku tak terlalu ahli memperbaiki mesin. Bagaimana kalau mobil ini tak mau jalan. Kuambil handphone di sakuku, berharap bisa menelfon taksi.

“Arrggghhhhhh....”

Aku menendangi ban mobilku. Jengkel. Aku lupa kalau handphone ku sudah lowbat dari tadi.

“Assalamualaykum dokter”

“Waalaykumsalam pak Rahmat”

“Itu mobilnya kenapa kok ditendang-tendang?”

“Mogok pak. Saya capek, jadi jengkelnya berlipat-lipat”

Rahmat tertawa mendengar jawabanku. Membuatku sadar kalau sikapku tadi memang lucu. Istilah gaulnya Ababil, begitu lah.

“Dokter Farid ini lucu. Mobil mogok kok malah ditendangi”

“Kadang capek membuat saya labil pak”

Kali ini aku tak menemukan ekspresi yang tepat selain nyengir tak jelas untuk menutupi rasa maluku.

“Yang sabar toh dok. Sini biar bapak bantu”

Laki-laki 40 tahun itu lalu menyuruhku membuka kap depan mobil. Aku pasrah. Mungkin dia bisa.

“Pak Rahmad nggak tidur?”

“Sudah tadi dok. Jam dua baru bangun”

“Wah bapak rajin sekali ya. Kalau saya lagi nggak ada kerjaan, jam segini pasti masih melungker di kasur”

“Sayang dok kalau jam segini tidur. Jam segini itu jam turunnya malaikat. Semua doa diijabah. Lha masak di waktu istimewa seperti ini saya tidur”

Lelaki yang hidupnya sedang penuh musibah itu berpetuah tanpa mengangkat kepalanya dari dalam kap. Aku sedikit sanksi dengan kata-katanya. Kalau yang dia katakan benar, seharusnya nasibnya tak sesial ini. Bagaimana mungkin orang yang disayang Tuhan malah dapat musibah bertumpuk-tumpuk. Istri kena Leukimia, 3 bulan koma di rumah sakit. Musibah itu saja sudah membuat Rahmat terpontang-panting mencari biaya pengobatan. Eh ditambah lagi sebulan lalu, perusahaan tempat dia bekerja tiba-tiba bangkrut dan memutuskan ikatan kerja tanpa pesangon yang cukup. Bagaimana orang ini masih bisa berkata kalau Tuhan akan mengabulkan doanya?

“Dokter Farid, sepertinya mobilnya sudah nggak mogok lagi. Mangga dicoba”

“Ah iya pak”

Aku masuk ke dalam mobilku, mencoba menghidupkan mesinnya. Lancar. Alhamdulillah.

“Terima kasih pak”

“Iya”

Tangan Rahmat melambai ceria. Aku menyetir mobilku pelan, berjaga kalau tiba-tiba kantukku tak tertahan.

Stasiun Senen 09.00

Kantukku masih tersisa. Suasana stasiun yang terlalu ramai membuatku tak bisa memejamkan mata sedetikpun padahal biasanya aku bisa tertidur pulas sambil duduk, atau sambil berdiri sekalipun. Kulirik jam tanganku. Sudah sejam aku menunggu tetapi kereta yang membawa Atikah, isteriku dari Surabaya tak juga datang. Sebenarnya aku memaksanya naik pesawat saja, mengingat kondisi kandungannya yang masih muda, rawan keguguran tapi dia menolak. Katanya naik kereta lebih nikmat.

Kubiarkan mataku menyisir keramaian. Memandangi ratusan wajah dengan ekspresi berbeda-beda. Ada yang menunggu kereta sambil terkantuk-kantuk, ada yang membaca buku, ada yang mendengarkan musik, ada yang mengobrol. Ada juga yang sibuk berjualan. Dari kejauhan, aku melihat sosok yang sepertinya kukenal. Perut buncit. Kulit putih bersih. Mengenakan bawahan celana gelap dan atasan kaos putih berlogo salah satu partai politik. Tangan kanan dan kirinya membawa 2 keranjang penuh makanan ringan dan minuman dingin. Aku memastikan, Tak salah lagi. Itu Rahmat.

“Laki-laki itu, bagaiamana dia bisa sesemangat itu?” aku bergumam dalam hati. Kuamati terus laki-laki itu. Kulihat tubuh gemuknya menunduk, tangannya tampak menyodorkan sebotol minumn isotonik kepada seorang laki-laki berbaju lusuh di dekatnya. Laki-laki berbaju lusuh itu terlihat menggeleng tapi tatapan matanya menunjukkan kalau dia sedang haus. Seperti biasa, Rahmat hanya tersenyum.

“Ambil saja mas”

“Saya tidak punya uang pak. Barang-barang saya hilang di kereta”

“Kalau mas nggak minum nanti pingsan lho. Ambil aja. Gratis”

Pak Rahmat terus menyodorkan minuman dingin berbotol biru itu. Sang pemuda tersenyum. Dan berterima kasih berkali-kali. Satu hal yang masih tak habis pikir, dalam keadaan sulit. Bahkan pengobatan isteri saja sampai harus menjual rumah. Belum lagi kuliah anak yang harus mandeg gara-gara tak mampu membayar SPP. Dia masih mau berbagi. Orang baik kadang membuat bingung.

*
Rumah Sakit Dharmais menjelang senja

Bau kematian menajam. Sinyal EKG (1)  melemah. Membuat keringat dinginku bercucuran. Sejak jam setengah empat tadi kondisi isteri Rahmat memburuk. Aku mencoba menghubungi Rahmat dan anaknya, namun baru detik ini aku sadar. Mereka berdua tak punya handphone.

Dokter Surya tampak menahan nafas. Mata kami saling bersitatap. Garis-garis di EKG terlihat lurus. Dokter Surya melakukan defibrilasi(2). Sekali, dua kali, tiga kali. Garis-garis di EKG tak berubah. Tetap lurus.

“Innalillahi Wa Inna Ilai Roji’un”

Dadaku tiba-tiba sesak. Meskipun aku dokter spesialis kanker yang sebenarnya sudah sangat biasa mengatakan, “Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuhan berkehendak lain” tapi optimisme, wajah ceria Rahmat membuatku tak tega mengatakan itu.

Aku keluar dari ruang ICCU. Ternyata Rahmat sudah standby di luar. Tangannya menggenggam map biru.

“Dokter Alhamdulillah saya dapat kerja lagi dengan posisi yang sama. Manajer Keuangan”

Aku mencoba memaksa tersenyum.

“Bagaimana kondisi isteri saya Dok? Apa sudah membaik? Saya jadi tak sabar ingin bercerita ke istri saya”

Aku memutar otak. Bagaimana memilih kata yang tepat? Oh God. Huft.

“Pak Rahmat sabar ya. Isteri bapak sudah beristirahat dengan tenang. Sepuluh menit lalu Tuhan memanggil isteri bapak”

Hening. Rahmat terdiam. Ekspresinya berubah. Tangannya menepuk dada.

“Ishbirni ya Rabb”(3)

Rahmat mengucapkan kata yang tak kumengerti. Beberapa menit kemudian, untuk pertama kalinya kulihat laki-laki tegar itu menangis.

“Sekarang isteri saya dimana dok?”

“Masih di ruang ICCU pak. Mari saya antar”

Tanpa komando, Rahmat berjalan cepat memasuki ruangan. Aku hanya memandanginya dari jauh. Laki-laki itu berhenti terisak. Diciuminya wajah sang isteri. “Allah menyayangimu. Allah menyayangimu”. Rahmat menatap isterinya lama, kurang lebih tiga puluh menit. Aku menungguinya dengan sabar.

“Allah lebih menyayanginya dok. Makanya dia dipanggil duluan”

Aku tercenung. Dalam kondisi seperti ini, di masih bisa berpikir positif.

“Dokter, saya boleh minta tolong?”

“Apa yang bisa saya bantu?”

“Bisa pinjam telefon. Untuk menelfon adik saya. Kasihan putri saya tidak ada yang menjemput”

Aku meminjami laki-laki itu handphone. Rahmat menggunakannya sebentar. Lalu pergi menyelesaikan administrasi. Dan membawa pulang jenazah isterinya. Sejak itu, aku tak pernah melihatnya lagi.


Tunjungan Plasa Surabaya 6 Bulan Kemudian

Kandungan Atikah sudah 7 bulan, aku memintanya mengambil cuti. Mungkin dua bulan lagi dia melahirkan. Aku tak tega kalau harus membiarkannya sendirian di rumah saat aku kerja. Karena kampung halamanku di Bukittinggi terlalu jauh. Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumah ayah bundanya di Surabaya.

Minggu ini, atas nama bayi yang dikandungnya dia memaksaku menemaninya ke toko buku Gramedia tunjungan plasa.

“Ke Manyar aja ya sayang, Dharmahusada ke TP kan jauh”

Aku mencoba membujuknya agar mau kuantar ke toko buku yang lebih dekat.

“Tapi aku pengen ke Gramedia TP mas. Ayo”

“Ntar anak kita ngiler lho”

Dia terus merengek. Dan bisa ditebak, ujung-ujungnya aku tak tega menolak bidadariku itu.

Di depanku, Atikah asyik memilah-milah buku psikologi Islam yang tertata rapi di rak kayu warna coklat. Aku memandanginya tenang, melihat bidadariku bahagia, rasanya damai sekali.

“Dokter Farid, Assalamualaykum”

Seseorang menepuk pundakku dari belakang

“Pak Rahmat” aku terkejut. Aku melihat Rahmat lagi. Kali ini penampilannya sedikit berbeda. Lebih bersih dan terlihat lebih makmur.

“Sedang apa dok?”

“Nemenin isteri pak. Lagi ngidam. Pak Rahmat sendiri?”

“Saya sedang mencari hadiah buat putri saya dok. Minggu depan dia wisuda S1 sekaligus wisuda hafalan Al Qur’an”

“Subhanallah hebat sekali”

“Iya. Waktu isteri saya sakit, anak saya cuti kuliah dan nyantri di ponpes. Meneruskan hafalannya yang kurang 10 juz. Alhamdulillah sudah khatam. Dan Alhamdullillah 6 bulan lalu saya dapat kerjaan lagi jadi bisa membayar kuliah putri saya sama ngontrak rumah”

“Pak Rahmat hebat ya”

“Bukan hebat dok. Hanya saja Allah memberi kami banyak kesempatan. Pamit dulu ya dok, kasihan anak saya nunggu di rumah. Assalamualaykm”

“Waalaykumsalam”

Rahmat berlalu, badannya mulai tak terlihat. Aku merenung. Laki-laki hebat. Optimisme, Khusnudzon, satu hal yang mungkin tak dipunyai orang lain. Laki-laki itu, tak pernah mengeluhkan keputusan Allah yang kadang terlihat kejam (atau mungkin aku saja yang menganggapnya itu kejam). Tanpa sadar aku mengingat kembali kejadian 6 bulan lalu.

Mungkin saja, maksud Allah mengambil isteri Rahmat adalah memberi Rahmat kesempatan menata kembali perekonomiannya. Mungkin saja maksud Allah membuat Rahmat tak bekerja untuk sementara waktu adalah untuk mengistirahatkan putri Rahmat agar dia punya kesempatan mendapat gelar Sarjana Komputer dan Hafidzah secara bersamaan. Mungkin saja.

“Wallahu a’lam mas. Tapi yang pasti, Allah itu Mahaadil. Sayang sama makhlukNya. Mas Farid aja yang kadang suka ngeluh. Di kasih ujian dikit sudah ngamuk-ngamuk nggak jelas”

Atikah menceramahiku. Aku memencet hidung mancungnya.

“Iya. Setidaknya mulai detik ini aku sadar, bahwa Allah tak pernah meninggalkan hambanya. semakin gelap malam semakin dekat dengan fajar, semakin berat persoalan semakin dekat dengan jalan keluar. Begitu kan sayang?”

Atikah tersenyum, sambil memegang perut buncitnya dia berbisik.

“Dengar sayang, papamu mulai sadar. Alhamdulillah”

Kami tertawa bersama. Ya Allah terimakasih karena kau sudah mengingatkanku dengan cara yang bisa kumengerti.

Selasa, 28 September 2010

Tentang Al Qur’an yang Dibakar

Metrotvnews.com, Springfield: Pembatalan pembakaran Alquran hanya omong kosong belaka. Faktanya, dua pendeta justru melakukannya. Yang melakukan bukan Pendeta Terry Jones, tapi kedua pengikutnya.
Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Alquran. Bersama Pendeta Danny Allen, Old melakukan aksinya di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media, Sabtu (11/9) lalu, sama persis pada hari yang dideklarasikan Terry Jones.

Kedua pendeta itu menyiram dua buah mushaf dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu.
Aksi dua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang kediaman Old. Mereka mengatakan aksinya merupakan pesan dari Tuhan. Old mengatakan gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya. "Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya," ujarnya sebagaimana dikutip media online Tennessean (12/10).
"Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta," katanya sambil memegang Alquran sebelum kemudian membakarnya. "Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu," tambahnya.
Kedua pendeta itu lantas melakukan apa yang disebutnya sebagai "demonstrasi damai" dengan sedikit gegap gempita. Delapan orang wartawan ikut menyaksikan aksi kedua rohaniwan gereja itu. (voa-islam.com/DOR)
11 September 2010
Akhirnya terjadi juga. Al Qur’an, kitab suci umat islam dibakar. Dikatakan sebagai buku setan, ayat palsu serta hinaan-hinaan lainnya. Sungguh tindakan yang tercela karena sejatinya kitab suci agama manapun tak layak dihina. Meski berbeda. Meski ajaran itu salah sebab Al Qur’an memerintahkan umat islam menyeru dengan hikmat. Sesuai dengan prinsip islam. Rahmatan Lil Alamin
Lakum dinukum waliya diin
Biarkan mereka beribadah dengan kitab-kitab mereka sendiri. Tak perlu diikuti, tak perlu dikacaukan. Yang perlu dilakukan hanyalah menyadarkan mereka dengan cara yang baik bahwa Tiada Tuhan Selain Allah hingga pada saatnya nanti mereka akan meninggalkan kitab-kitab mereka sendiri.
Cukuplah
Lakum Dinukum Wa Liyadin
Kembali ke pembakaran Al Qur’an, sebuah hinaan yang fatal memang. Tapi ada satu hal yang perlu dilakukan umat muslim saat ini sebelum memutuskan untuk berorasi berapi-api. Sebelum berteriak “Anjiiiiiiiing” atau apalah itu.
Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya merenung. Adakah umat islam saat ini mengenal Al Qur’annya dengan baik sehingga saat mereka bertanya, bagian mana dalam Al Quran yang mengajarkan kedamaian, umat muslim bisa menjawabnya
Ataukah umat muslim sekarang hanyalah muslim yang sok kenal dengan Al Quran lantas berkoar, APA YANG KAMI LAKUKAN SUDAH BENAR MENURUT AL QURAN hingga Al Quran yg suci turut menanggung akibat dosa yg mereka lakukan.
Renungkan
Sebab bisa jadi, orang-orang yang membenci Al Quran menilai Al Quran bukan langsung dari makna dan kandungannya melainkan dari tingkah laku muslimin saat ini.


*

Quotes
Tegakkan syari’ah dengan langkah yang syar’i
Sucikan Ayat-ayat Allah SWT dengan hati yang bersih 

Kamis, 26 Agustus 2010

Prolog


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya “ (QS At Tin : 4)
“Renungkan apa yang disampaikanNya lewat alam. Lewat ciptaanNya.  Akankah kau menangisi segala hal yang tak kau miliki. Mengeluh, tak ada aura bidadari dalam senyummu, tak ada rona pelangi dalam wajahmu, tak ada gemintang dalam tatapanmu, tak ada jernih susu dalam kulitmu. Dan semuanya
Atau kau akan bersyukur atas segala yang ada. Keluarga yang penuh kasih.  Otak yag cemerlang dan semuanya.
Perlu kau tahu, bahwa tak ada manusia yang lebih baik dari manusia lain, selain manusia yang bertaqwa kepada Rabbnya
-part of my project-

Minggu, 22 Agustus 2010

Ramadhan


Mungkin 10 Tahun Lalu
Bahagia ini hadir
Sebab hidup kita dirahmati
Sebab doa kita diijabahi
Sebab dosa kita diampuni
Alhamdulillah
                Mungkin detik ini
                Bahagia kembali hadir
                Sebab lebaran akan datang
                Sebab THR akan dicairkan
                Sebab mata melihat tulisan SALE SALE SALE bertebaran
                Sebab Fashion show idul fitri akan dilaksanakan
                Indahnya
                Alhamdulillah
Mungkin 10 Tahun Lalu
Sedih ini hadir karena matahari terakhir ramadhan terbenam
Mungkin detik ini
Sedih ini hadir karena baju kita tak sebagus tetangga depan
Mungkin
                Begitulah ramadhan dari waktu ke waktu
                Bahagia dan Sedih tetap hadir
                Meski dengan sebab berbeda

Rabu, 28 Juli 2010

Mencari Solusi Tanpa Mendatangkan Masalah Lain

Mungkin sudah fitrahnya bahwa wanita memang diciptakan berparas menarik. Terlebih untuk teman-teman yang menutup auratnya dengan baik, juga menjaga pandang, pesona sejati seorang muslimah akan terpancar dengan sendirinya. Maka jangan heran, jika di kehidupan sehari-hari anda aka dipenuhi perhatian, ungkapan cinta, mungkin juga berkali-kali di khitbah.
Memang terkadang hal ini membuat kita risih, terlebih kalau ada oknum yang sepertinya menciptakan ‘teror’ kepada kita. Memenuhi handphone kita dengan sms-sms ‘gombal’, memenuhi meja kita dengan kartu ucapan, atau bahkan tiba-tiba ada kiriman coklat ke alamat kita. Itu wajar. sebab kita memang hidup di dunia, bukan di surga. Jadi keterjagaan mungkin hanya milik sedikit orang, bukan semua.
Ada kalanya kita yang risih menjadi agak gegabah memilih langkah mengatasi semua. Dengan mengganti status facebook dari single menjadi in relationship misalnya. Mungkin tampaknya ini akan menyelesaikan masalah sebab orang-orang yang ‘mengejar’ kita akan berpikir ulang untuk melanjutkan ‘pengejarannya’ kalau tahu kita sudah punya pasangan, tapi kalau kita mau mencermati, itu semua hanyalah solusi jangka pendek yang bisa saja menghadirkan masalah lain. Fitnah lain.
Ukhti, pernahkah kita berpikir saat kita mengganti status seperti itu, banyak mata yang mengawasi tindakan kita. Tak hanya si dia, tapi mungkin juga orang-orang lain yang sudah menganggap kita teladan sebab kita adalah kader dakwah. Kalau mereka hanya tahu, tanpa berpikir macam-macam sih tak terlalu bermasalah tapi kalau mereka berpikir, lhawong yang biasa dakwah aja boleh pacaran masak kita nggak? Itu yang menjadi masalah sebab tanpa sengaja kita sudah menjadi MLM maksiat. J
Sebenarnya, jika kita bisa berpikir jernih, pasti ada solusi alternatinya sebab Allah tak mungkin memberi ujian di luar kemampuan hambanya. Jikalau antum semua merasakan kerisihan seperti itu, coba beri ‘dia’ pengertian dengan cara yang ma’ruf dan tak melanggar koridor syari’at tapi kalau dia tak bisa diberi pengertian yah ada dua pilihan acuhkan atau hindari (bener ngga ya? –“) atau mungkin antum bisa curhat ke orang yang lebih mengerti (murabbi misalnya) jadi antum insya allah dapet solusi yang lebih baik.
NB
Spesial thanks buat teman-teman yang sudah menasihati saya =))

Sabtu, 24 Juli 2010

  Rahasia Dua Lelaki

dari balik tabir, kudengarkan wanita itu bicara mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru
***
“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu. Aku menerka demikian pula wajahnya
“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak jika mereka punya kehendak”
“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”
***
“lelaki pertama berparas titisan yusuf,hartanya warisan sulaiman, gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya
aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
***
“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,
“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona, merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan bercakap dengan insan paling bijaksana”
***
aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum
***
“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona merasa menjadi wanita paling jelita, merasa diriku perempuan paling cendikia”
***
“jadi di antara mereka”, tanyaku sambil mengepalkan jemari
“siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?”
kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri ,dia bersukacita saat menebarkan pesona, dia bahagia ketika banyak hati memujanya”
***
“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya mdaya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”
***
“jadi”, aku menyimpulkan perlahan, “kaumemilih yang kedua?”
dia tersenyum lagi, “aku telah mendapatkan yang ketiga”
“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku, dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan, dia menjaga pernikahannya dengan kesucian, dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya. dia belajar memiliki pesona lelaki kedua, untuk mengagungkan isterinya meski jauh dari sempurna dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
“sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”
***
aku tersenyum kini, “tunggu, apakah engkau ini isteriku?”
***
NB
ini copast dari blognya pak salim a fillah
bagus, walaupun yang nulis agak narsis ^^

Cinta: Apakah berbalas?

"Beginilah cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta; Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada disekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum, dan menangis tanpa mau disebut gila." (Tasaro GK, Galaksi Kinanthi)

Cinta yang belum terbalas tapi masih menghadirkan harap akibat sebuah perasaan “sepertinya dia suka sama aku” memang menyiksa. Mendatangkan penasaran. Membungakan angan “Andai dia mau denganku”, atau “Apa dia tahu perasaanku?”. Mau tak mau, pertanyaan itu akan terus muncul dalam benak kita. Setiap hari. Berganti-ganti bahkan di alam bawah sadar sekalipun.

Sikasaan itu akan lebih terasa ketika  di satu hari perhatiaannya membuat kita merasa perasaan kita berbalas, sementara di lain hari sikapnya yang ‘cuek’ mulai menghempas harap. Kadangkala terbersit hasrat untuk sekedar menanyakan perasaan. Tapi agaknya kita terlalu pemalu untuk memulai berbicara tentang rasa hingga siksaan itu terus berjalan tanpa henti.
*

Menanggapi permasalahan di atas, pernahkah kita berfikir dari dua arah, apakah cinta yang berbalas selalu sesuai dengan gambaran orang yang patah hati? Indah dan membahagiakan

Mungkin bagi sebagian orang memang iya. Namun bagi mereka yang telah menitipkan hatinya kepada Sang Pemilik Cinta, keterbalasan itu justru menghadirkan gelisah karena disatu sisi mereka takut zina hati sementara di sisi lain mereka menikmati gejolak indah yang bervariasi

Hari-hari dipenuhi keraguan. Saat kita gembira bertemu dengan "dia", di saat itu pula rasa "takut" hadir, di saat kita merindukannya, di saat itu pula kita merasa malu karena kita jarang mengingat pemiliknya, Ar-Rahman. Pergulatan batin akan jadi sangat melelahkan jika kita tidak berusaha untuk "mempertahankan" diri sekuatnya.

Bagi yang sudah diberi kemampuan untuk menikah , masalah ini mungkin akan bisa diatasi dengan mudah. Tapi bagaimana bagi yang belum mampu? Inilah ujian yang sebenarnya. Saat kita diharuskan memilih, untuk tetap lurus ataukah sedikit berbelok. Terserah pilih yang mana hanya saja ada satu hal yang perlu diingat bahwa cinta sejati tak akan pernah melawan ketentuan Ar Rahman, Sang Pemilik Cinta.

Intinya, bagi seorang yang masih ingin berada dalam koridor ketaatan dan belum diberi kemampuan untuk menikah, terbalas atau tidak sebenarnya sama saja, tak terlalu membawa pengaruh besar. Toh biarpun terbalas, kita tetap saja harus menekan perasaan ini, sebab semua belum memang belum waktunya.

Kalaupun ‘nasib baik’ berpihak dan si dia berjanji akan menikahi kita dalam tenggat waktu 2 tahun lagi, 3 tahun lagi atau bebeeerapa tahun lagi semua perlu kita pikirkan ulang. Apakah mengikat seseorang dengan ikatan yang bukan pernikahan itu ada dalam Al Qur’an? Oleh kerena itu yakinkan diri kita bahwa jika sudah pada waktunya, tanpa janji pun lelaki langit pasti akan datang menjemput bidadarinya J

Mungkin awalnya kita risau, karena perasaan ingin memiliki terus memenuhi hati tapi yakinlah Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jika satu saat nanti kita siap menikah dan ternyata dia melamar kita ya Alhamdulillah, tapi kalau ternyata dia bukan jodoh kita, terima saja. Karena itu sudah ketentuan. Bukankah menikah dengan orang yang kita cintai adalah pilihan? Dan mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban?
*
“Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah maka cinta yang lain hanyalah upaya menunjukkan cinta padaNya. Pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki. Selamanya memberikan apa yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. (M Anis Matta)”


“Yang mereka cintai sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang atau benda atau bentuk apapun. Manusia hanyalah medan karya tempat cinta mengejawantah. Maka Allah memberi mereka kelezatan demi kelezatan ketika cinta mengejawantah. (M Anis Matta).”


“Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi yang lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu (M Anis Matta)”




*
NB
Sebenernya aysha juga agak sungkan nulis cinta-cintaan mulu tapi ya mau gimana lagi. Lhawong ada yg minta –“. Dan rasanya sayang kalau tidakk didokumentasikan di blog ^^ narsis mode : on. :P wkwk ee

Kamis, 22 Juli 2010

Quotes

ini kutipan-kutipan yang saya suka. tapi maaf ni, saya belum sempat mencantumkan sumber-sumbernya :D

simak-simak :D
*
 “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS 48: 29)
*
Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami." (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (QS 7 : 126)
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuhmu. Jika kamu merasa sakit kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS 4 : 104)
*
Di jalan cinta para pejuang mungkin kita terjaga sebelum mimpi kita selesai. Dan tugas kitalah untuk segera bangun, bangkit menyelesaikannya di dunia nyata.
*
Di lautan nikmat dua makhluq terpisah. Yang satu tenggelam yang satu menyelam. Kau tahu apa bedanya?
*
Kita yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.
*
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak sedikitpun merubah (janjinya)(QS 33:23)
*
Para pecinta sejati tak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai, mereka akan segera membuat rencana untuk memberi. (M Anis Matta)
*
Yang mereka cintai sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang atau benda atau bentuk apapun. Manusia hanyalah medan karya tempat cinta mengejawantah. Maka Allah memberi mereka kelezatan demi kelezatan ketika cinta mengejawantah. (M Anis Matta).
*
Jika cinta adalah matematika maka yang mencintai kita akan mengalikan kebahagiaan sampai tak hingga, membagi kesedihan hingga tak berarti, menambah keyakinan hingga utuh, mengurang keraguan hingga habis
*
Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah maka cinta yang lain hanyalah upaya menunjukkan cinta padaNya. Pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki. Selamanya memberikan apa yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. (M Anis Matta)
*
Di jalan cinta para pejuang, sejak awal kita mengikrarkan bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya kita akan kembali. Maka dengan sahabat yang paling setia, dengan saudara yang paling kita sayang, atau orang tua yang paling kita cinta, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Sudah begitu besar karunia Allah, bahwa kita ditakdirkan bersama. Atau pernah bersama. Bersama di jalan cinta para pejuang
*
Kalau cinta sudah terurai laku, cinta itu sempurna seperti pohon iman. Akan terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata. Buahnya terjumbai dalam laku (M Anis Matta)
*
Cita dan tujuan selalu ada jauh di depan. Gairah dan hasrat membuatnya terasa dekat. Jikapun kemudian ia masih tampak gelap atau buram. Itu karena mata yang kita pakai untuk melihatnya terletak dalam hati. Apakah kau mendengar suaranya saat memohon untuk tak dikotori.
*
Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi yang lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu (M Anis Matta)
*
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu (HR Muslim)
*
Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Jika suatu kedurhakaan berulangkali dikerjakan maka jiwa menjadi akrab dengannya. Hingga ia tak lagi peka. Mati rasa (Hasan Az Zayyat)
*
Kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya. Ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu, itu kesamaan. Ada panas dan dingin bertemu untuk menciptakan kehangatan, itu keseimbangan. Ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman, itu kegenapan.
*
Aku percaya, maka aku akan melihat keajaiban. Iman adalah mata yang terbuka mendahului datangnya cahaya.
*
Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah ketika digunung ia menggalang kapal dan ditertawai. Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba ketika pisau nyaris memapas buah hatinya. Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah saat ia diperintah memukulkan tongkat. Di badar, Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak “Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah”. Dan kitapun belajar, alangkah agungnya iman.
*
Ajarkan pada kami bunda Hajar, bagaimana perasaan iman menghajar rasa khawatir dan cemburu yang membakar. Wahai para sahabat yang menggali parit, bisakah kalian rumuskan dalam sebait bagaimana nalar iman meloncat tinggi melampaui nalar munafik yang berbukit-bukit.
*
Padaku malaikat menawarkan “Tinggallah di langit, bersama syahdu sujud-sujud kami. Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”. “Tidak”, kataku, “Di bumi masih ada angkara aniaya. Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban hingga batas waktu yang ditentukan” (Iqbal, Ziarah abadi)
*
Wahai pejuang, jalan kita bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja saat menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan para penikmat ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci.
*
Ikhlas, kata yang tak mudah dan selalu menyisakan tanya. Dan kita adalah manusia yang tak dapat tidak, suka menuliskan kebajikan-kebajikan kita. Maka aku menuliskan kebajikan di atas air. Menjadi gelombang kecil, kecil saja. Di permukaan, meriak dan menghilang. Lalu yang tampak hanya wajahku yang kehausan. Atau terkadang kutulis di atas pasir agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan. Agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan.
*
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS 9 : 41)
*
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya (QS 23 : 57-61)
*
Orang-orang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya". (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS 13 : 27-28)
*
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS 48 : 4)
*
Syukur adalah mendayagunakan segenap nikmat yang telah Allah karuniakan untuk menggapai yang lebih tinggi. Yang berharta, jangan puas denga shadaqahnya. Yang berilmu, jangan puas dengan amalnya. Yang bernafas, jangan puas sekedar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah, berlairilah. Di jalan cinta para pejuang, bersabarlah, bersyukurlah.
*
Sahabat sang nurani
Satu saat, kuminta nasehat pada seorang sahabat
Aku merasa tak layak ukht, katanya

Aku tersenyum dan berkata
Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan
Sungguh di dunia ini tak ada lagi
Orang yang layak member nasihat

Memang merupakan kesalahan
Jika kita terus saja saling menasihati
Tapi dalam diri tak ada hasrat untuk berbenah
Dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari

Tapi ada kesalahan juga
Jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati
Hanya karena kita berselimut baik sangka kepada saudara

Dan kesalahan terbesar
Jika kita enggan saling menasihati
Hanya agar kita sendiri tetap merasa nyaman
Berkawan kesalahan

Subhanallah, di jalan cinta para pejuang
Nasehat adalah ketulusan
Kawan sejati bagi nurani
Menjaga cinta dalam ridha-Nya
*
Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, tapi engkau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu, tapi engkau kan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapapun yang kau dambakan, tapi kau pasti kan berpisah darinya (Jibril AS)
*
Jadikan cintaku padaMu ya Allah, berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena aku tahu, menaatiMu dalam hal yang tak kusukai adalah kepayahan, perjuangan dan gelimang pahala. Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.
*
Tapi yakinlah, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya.
*
Jika masih hidup, aku akan bisa makan
Jika mati, takkan kekurangan kuburan
Semangatku adalah semangat raja
Jiwaku jiwa merdeka
Yang memandang kehinaan bagai kekafiran
(Muhammad bin Idris As Syafi’i)
*
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoiNya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hambaKu. Maka masuklah ke dalam surgaKu (QS Al Fajr : 27-30)

Rabu, 21 Juli 2010

Tulip Dari Sinai


Bagai orang asing bagi pribadimu
Kau cari jalan baru ke bintang di langit
Buka matamu, pandang dirimu umpama benih
Agar tersembul kau dari bumi bagai pohonan

Agar kau paham rahasia hidup
Kusampaikan ihwal dengan segenap rahasianya:
Mati sajalah kau jika tak punya jiwa
Jika punya, kau akan hidup kekal

Katamu insan dibentuk dari segumpal darah
Terikat dunia ada dan membusuk ini
Namun alam dengan bingkai jagatnya
Telah meletakkan arus pada dasar lautnya

Tak tahu aku apa aku anggur atau cawan
Mutiara atau pemilik mutiara
Jika kuterangi mataku dengan jiwa, kutahu
JIwaku dan aku tak sama dengannya

Dunia kita ini masih percobaan seorang pemahat
Perubahan demi perubahan ia alami siang dan malam
Pahatan nasib memerintahkan kita terus bekerja
Memberi bentuk, sebab ia masih pahatan kasar

Tak seorang tahu bagaimana Diri muncul mengada
Tak dari dunia ruang dan waktu ia berasal
Kudengar hikmah ini dari Khaidir nabi lautan:
"laut tak lebih tua dari ombaknya."

Apa arti kerisauan pikiran dalam kalbuku?
Mengapa ku tampak bagaikan rahasia
Terangkan padaku ini, o Filsuf bijak:
Tubuh diam, jiwa mengembara. Bagaimana dan mengapa?

Jika kau tahu kemungkinan-kemungkinanmu
Embun bisa kau cipta jadi lautan luas
O Hati, mengapa minta seberkas cahaya pada bulan?
Nyalakan lampumu agar terang malam-malammu

Berapa lama kau akan tetap berduka seperti ini?
Berapa lama sarangmu tetap di debu seperti semut?
Belajarlah terbang bagai elang dan membubunglah
Jangan di tanah kau mencari makan, tapi di angkasa

Jika kau dicipta
Bagai setetes embun
Bangkit dan belajarlah membasahi
Hati tulip

Jika kau dicipta sebagai duri
Tempellah sekuntum mawar segar
Ingatlah kemuliaan taman:
Belajarlah menikam

Jika kau disilang tukang kebun
Dengan kembang lain
Belajarlah tumbuh segar
Bagai rumputan

Supaya lebih kuat
Dan tetap pahit
Tinggallah di bumbung arak
Dan matangkan dirimu di situ

Berapa lama kau akan tetap tinggal
Di bawah sayap lain?
Belajarlah terbang
Dengan bebas di taman

Ketika kuketuk pintu kedai
Penjaga kedai berkata:
"Pergi! Nyalakan sendiri api di Baitul Haram
Hingga hatimu menyala terang."

Tak pernah kupuja bentuk
Kuhancurkan sudah rumah berhala
Aku ini arus yang meluap
Kurecai semua rantai

Pikiranku ragu
Tentang ada dan tiadaku
Namun cinta mengumumkan
Aku ada

Aku memuja di rumah berhala
Dan shalat di Ka'bah
Kukalungi leherku untaian suci
Dan di tangan tasbih

Tak berani kukuras genangan duka ini
Sebab Kau yang memberinya
Kucegah air mataku menyembur
Agar mata air memancur dari kalbu

Arif dalam kata
Aku gila tindakan nyata
Mabuk anggur cinta pada-Mu
Tetap aku bersahaja

Muhammad Iqbal

Harapan Kepada Pemuda


Aku harapkan pemuda inilah yang akan sanggup
membangunkan zaman yang baru
memperbaru kekuatan iman
menjalankan pelita hidayat
menyebarkan ajaran khatamul-anbiya’
menancapkan di tengah medan pokok ajaran Ibrahim

Api ini akan hidup kembali dan membakar
jangan mengeluh jua, hai orang yang mengadu
Jangan putus asa, melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah terhampar bersih
Dan kembang-kembang telah menyebar harum narwastu

Khilafatul-Ard akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari sekarang
Tegaklah untuk menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak atar itu, meskipun masih tersimpan dalam kuntum yang akan mekar

Tegaklah, dan pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum narwastu meliputi segala
Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu

Kipaskan sayap mu di seluruh ufuk
Sinarilah zaman dengan nur imanmu
Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu
Patrikan segala dengan nama Muhammad

Mohammad Iqbal

Sepucuk surat dari ayah


Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Bekas kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindahdan paling aku banggakan di depan siapapun.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.
 Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dicintai orang lain, tapi agar engkau dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapatkau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu
MISYKAT. 8

Selasa, 13 Juli 2010

ketika aysha yg geje ngomongin korupsi :P

Teman 1
“Wah kalau orang Indonesia yang korupsi dihukum mati, ntar ada pembunuhan masal dong. Lah jumlah pejabat dari tingkat kelurahan sampe eselon satu aja berapa? Belum pengusahanya. Wah bisa-bisa hantu koruptor gentayangan ntar hihihi”
Teman 2
“Emang dasar orang Indonesia, jiwanya jiwa ngrusak, KRD enak-enak pake pintu otomatis kok diganjel pake batu. Rusak deh”
Teman 3
“Adek q kmaren hasil tesnya jelek. Jadi ga masuk SMP negeri, tp mama bilang ada yang nawarin bangku 1,5 jt gt…menurutmu gmn?”
Teman 4
Indonesia, ing ngarso ngrikiti ing madya ngriwuhi, tut wuri ngerecoki *halah-halah*
Teman 5
“Lhawong mau jadi polisi aja nyogoknya puluhan juta, pantes pas dah jadi balikin modal. Begitu itu tingkahnya, kalo  ga pungli di jalan yaaa jadi makelar kasus”
Teman 6
“Anggota DPR kerjaannya ya nyari ceperan biar modalnya balik dulu”
Teman 7
“Cara ngemis dari yang paling konvensional smpe yang paling modern
Pengen uang receh sodorin bungkus permen
Pengen duit seribuan sodorin amplop
Pengen duit jutaan sodorin cek
Pengen milyaran, sodorin koper kayak si gayus :P”
Teman 8
Apa bedanya pengemis ma koruptor?
Klo pengemis ga makan haknya koruptor, kalo koruptor makan jatah pengemis
Trus klo koruptor ma WTS apa?
WTS kena razia malu, mukanya ditutup
Lha koruptor klo ketangkap malah senyam-senyum innocently di depan tipi 
      Halah-halah mbuh lah teman-teman saya ini komentarnya makin kreatif saja. Sempet sih saya bilang. Kalian ngomong gitu soalnya kalian ngga ada di tempat mereka, klo kalian jadi pejabat yakin tah ngga bakal tergoda? :P
      Indonesia,
      Banyak nian penyakitmu. Digerogoti orang-orang yang tidak amanah, dari tingkat sekolah aja sogok menyogok dah kelihatan wajar. Ntar klo dah jadi pejabat, makan uang rakyat jadi wajar juga donk.
      Zaman sekarang korupsi mah dah biasa, lha wong pak sensor aja pake peci korupsi milyaran kok .
      >,<
      Ayo ada yang bilang gitu? sini tak timpuk….
      Kalian jangan lihat pecinyaaaa………..yang korupsi itu orangnya bukan pecinya.
      Lagipula, Kalau perbuatan buruk sudah dinilai wajar, apa kita mau ikut-ikutan juga? klo kalian semua jawab iya, saya yakin selamanya Indonesia akan rusak, soalnya semua berorientasi ngeruk kekayaan negara, ga ada yang pengen melakukan perbaikan.
      Ntar smua pada bilang
      Malu aku jadi orang Indonesia
      Untung ibu pertiwi ga bisa ngomong. Kalau dia bisa ngomong pasti dia akan bilang
      Gue yang malu punya penduduk kayak kalian smua
      Entahlah rasanya, kerusakan mental ini sudah terlalu mendarah daging. Mental generasi muda kita sudah terlanjur terbentuk menjadi sosok pencari keuntungan yang handal bukan  pemberi kontribusi yang loyal dan ikhlas.
      Gimana enggak, lha wong pendidikan korupsi sudah di tanamkan sejak dini.
      Masuk sekolah nyogok
      Nilai jelek, ngasih uang saku buat wali kelas
      Masuk universitas pake joki
      Ntar ga dapat kerja, nyogok personalia
      Mbuh-mbuh geregeten
      Yasudahlah, daripada saya komen aneh-aneh disini. Ntar malah yang disinggung lihat dan saya dituntut karena pencemaran nama baik lebih baik saya akhiri saja lah. Hmm…iya, ada pesan buat teman-teman.
      Apakah kalian masih ingat hukum inersia?
      Saya harap kalian bisa mengerti filosofinya :P
      Dan satu lagi
      Jangan pernah berkata
      Jangan malu menjadi orang Indonesia
      Hanya untuk membela diri dari puisi pak taufiq ismail
      Malu aku jadi orang Indonesia
      But katakan dengan yakin
      Jadi orang Indonesia jangan malu-maluin
      Lalu Ikuti dengan tindakan, agar ibu pertiwi tak lagi malu punya penduduk seperti kita
      Aysha yang lagi error

Jumat, 02 Juli 2010

Cinta, biar aku yang mengartikannya :)

Cinta tak hanya untuk itu sayang
orang lain boleh menghabiskan waktunya di pantai, di mall, dimanapun
bersama kekasih
tapi apa kita harus seperti itu juga?
kau tahu?
disana
masih banyak orang yang masih butuh bantuan kita

Cinta tak hanya untuk itu sayang
orang lain boleh menatap gemintang malam
membayangkan wajah terkasih mereka
tapi apa kita harus seperti itu juga
sementara jauh disana
nyanyian surga memanggil dengan kata perjuangan

Cinta tak hanya untuk itu sayang
orang lain boleh tertidur dalam sepertiga malam
memimpikan kekasih kekasih mereka
tapi apa kita harus seperti itu juga?
sementara di Arsy sana ada Sang Kekasih yang Maha Agung dan Pencemburu
yang selalu menunggu kita untuk terjaga
menangis, mengeluh, bercerita dan meminta kepadaNya

Cinta tak hanya untuk itu sayang
orang lain boleh saja melayangkan kata cinta kpd kekasihnya
tapi apa kita harus seperti itu juga?
Lihat disana,
ada ali, fatimah yang menyimpan cinta mereka dalam rahasia paling rapat
pun cinta mereka berakhir indah
maka biar aku mengikuti jalan mereka
aku tahu ini memang sepertinya menakutkan
tapi aku pasrah
karena aku tahu Dia akan memberikan jalan yang indah
bukan karena aku tak terlalu cinta padamu
tapi cintaNya yang lebih besar membuatku tak kuasa melanggar laranganNya :)

Cinta tak hanya untuk itu sayang
tak hanya untuk bersentuhan
tak hanya untuk bermanis muka
tak hanya untuk berjanji

tapi cinta adalah perjuangan yang tak kenal kata lelah
untuk meninggikan namaNya

jika saat ini kau terluka karena perasaan kita
akupun juga
tapi percayalah
di surga nanti balasaNya akan lebih indah
dan memupuskan duka kita disini 

Senin, 14 Juni 2010

Indonesia == Ngaret?


Nih sebenarnya curcol sih makanya jangan kaget kalau gaya bahasanya agak beda
                Heran, jengkel, bin mangkel kalo nglihat orang-orang yang hobiiiiii banget ngaret, masak nglihat budaya tepat waktu aja harus ke Jepang sih? Apa ngga bisa , anak Indonesia membudayakan sendiri untuk datang tepat waktu di setiap acara? Yang lebih menjengkelkan lagi , setiap janjian mau rapat, syuro dll. Pasti ada dialog gini
                “Berangkatnya jam 9 aja ya?”
                “Jangan jam 9, ntar molornya bisa sampe jm 10. Jam 7 aja, ntar biar bisa mulai jm  9 pas”
                --“
                Grrrwwwwwwhhhhhhhhhhhhhh………………………..
                Tanggung jawabnya orang-orang itu mana ya? Padahal , kalau kita janji sama seseorang ,  akad kita ngga hanya dilihat ma orang itu tapi juga dicatet sama malaikat, dilihat sama Allah. So kalau kita ngaret, Allah menyaksikan perbuatan kita smua, Ngga malu?
Lagipula, Gara-gara kebiasaan ngaret itu, orang-orang yang awalnya rajin jadi kapok untuk datang tepat waktu.
 Mikir yang jauh euy >,<

NB          :
Hihihi
                Afwan-afwan, ane emang lagi dongkol
                Kata-kata ngga enaknya ngga perlu diinget
                Ambil intinya aja
                Setiap kali kita berjanji, kita tak hanya berjanji di depan manusia tapi juga di depan Alloh jadi kita jangan sampai melanggar akad perjanjian itu. >,<